Oleh: mpi3ums | 20 November 2009

Mencari Bukti Kesesatan Pemikiran Minardi Mursyid

oleh: Muhsin Suny M, S.S.

Pendahuluan
Drs. Minardi Mursyid, pimpinan Yayasan Tauhid Indonesia (Yatain) menulis sebuah makalah berjudul “Masyarakat Manusia di Planet Luar Bumi” di sebuah situs. Sebuah makalah yang mencoba membuktikan bahwa di planet luar bumi terdapat manusia seperti kita.

Sebelum kita lebih jauh membahas kesesatan makalah ini ada baiknya saya uraikan sedikit tentang Yatain ini. Yatain adalah sebuah yayasan yang kegiatan intinya adalah mengadakan pengajian-pengajian rutin di berbagai daerah di Solo dan sekitarnya. Secara pintas pengajian ini memang menarik karena dikemas dengan sajian teknologi tinggi. Seperti penggunaan laptop, handycam, LCD proyektor dan wall screen. Sebuah kemasan yang sangat jarang-jarang ditemukan di forum-forum pengajian di Solo.

Setiap pengajian dilaksanakan pasti direkam dan kemudian di-burn dalam CD dan dibagikan secara gratis kepada jama’ah pengajian. Sebuah kemasan pengajian yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun, bahkan di perkuliahan magister sekalipun. Sebagaimana kita lihat dimana-mana lazimnya pengajian pasti berisi ceramah murni. Kalaupun ada yang memakai bantuan LCD pasti hanyalah beberapa. Itupun biasanya pengajian khusus yang diikuti oleh orang-orang khusus juga.

Awal saya mengenal Yatain adalah dari seorang wali murid SDIT Muhammadiyah al-Kautsar Gumpang Kartasura. Wali murid itu memberikan saya sebuah buletin yang berisi keraguan tentang kisah (mereka menyebutnya “dongeng”) Isra’ Mi’raj. Saat itu saya tidak begitu memperhatikan makalah itu, meskipun saya mempertanyakan logika-logika yang ditampilkan di dalamnya.

Akan tetapi ketika tiba-tiba pengajian itu pindah di rumah tetangga dan saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Mbah Min (panggilan akrab jama’ah Yatain untuk Drs. Minardi Mursyid) menyampaikan pikiran sesatnya, saya pun gerah dibuatnya. Akhirnya bersama teman-teman aktivis se-kartasura saya membubarkan pengajian itu setelah sebelumnya diadakan dialog di kelurahan dengan mediasi bapak Camat Kartasura.

Dakwah Yatain ternyata tidak hanya terbatas pada pengadaan pengajian rutin di beberapa daerah. Mereka juga berani membeli jam siar di MQ FM Solo meskipun dengan harga yang tidak murah. Akan tetapi siaran itu hanya berjalan dua kali karena mendapatkan pertentangan dari MUI Solo dengan alasan menyebarkan ajaran yang meresahkan masyarakat.

Bukti Kesesatan
Sebenarnya mudah saja untuk membuktikan bahwa ajaran Mbah Min adalah sesat. Jika kita baca makalah tersebut dari awal sampai akhir maka tidak satupun kita menemukan kutipan hadits di sana. Akan tetapi jika makalah ini dibaca oleh orang awam memang bisa menyesatkan karena ia mengemasnya dengan bumbu logika. Meski makalah tersebut berjumlah 25 halaman (58.025 karakter), tetapi semuanya memakai ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil.

Makalah tersebut diawali dengan cercaan mbah Min atas kelambatan umat Islam dalam merespon setiap perkembangan teknologi. Umat Islam banyak yang hanya jadi penonton atas perkembangan teknologi yang ada. Tampak jelas di makalah tersebut (dan juga dalam ceramah-ceramahnya) mbah Min menyesalkan umat Islam yang masih saja menyitir ucapan Imam al-Bukhari dan ulama-ulama “kuno” lainnya karena kehidupan mereka jauh setelah Nabi meninggal. Baca Lanjutannya…

Iklan

oleh: Suwinarno, S.Ag.

Pendahuluan

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar-Rum, 30: 21)

Pernikahan (perkawinan) dalam agama Islam merupakan perbuatan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Perkawinan merupakan sebuah perjanjian suci, sakral, yang harus dijaga sebaik-baiknya oleh suami dan istri. Oleh karena sebelum melangsungkan pernikahan, Islam mengajarkan kepada kita untuk selektif di dalam memilih pasangan, serta diharapkan calon mempelai berdua untuk mempelajari pernik-pernik di dalam kehidupan samudra rumah tangga yang akan mereka jalan supaya tidak jatuh dalam jurang kehancuran.

Pernikahan bukan layaknya transaksi “Showroom Mobil” sehingga boleh ‘bongkar-pasang’ sesuka hati, setelah diperiksa bodi-fisik, mesinnya setelah cocok kemudian dibeli. Namun setelah ‘bosan’ memakainya dengan mudah bisa ditukarkan. Pernikahan dalam Islam tidak hanya mencari kepuasan fisik semata tetapi memiliki tujuan yang suci dan mulia yakni terciptanya keluarga yang sakinah. mawadah dan warrahmah.

Keputusan da’i kondang Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym untuk berpoligami ternyata tidak hanya mengundang gejolak masyarakat di seluruh tanah air. Presidenpun kebagian repot, selama sepekan ponsel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu negara Ani Yudhoyono kebanjiran SMS dari masyarakat mengomentari poligami (Tabloid Harian Republika Dialoq Jum’at, 8 Desember 2006).

Poligami merupakan permasalahan dalam perkawinan yang paling banyak diperdebatkan sekaligus kontroversial. Poligami ditolak dengan berbagai macam argumentasi baik yang bersifat normatif, psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan ketidakadilan gender. Para penulis barat sering mengklaim bahwa poligami adalah bukti bahwa ajaran Islam dalam bidang perkawinan sangat diskriminatif terhadap perempuan. Poligami dikampanyekan karena dianggap memiliki sandaran normative yang tegas dan dipandang sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan fenomena selingkuh dan prostitusi (Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, 2004: 156).

Polemik dari kalangan Islam Liberal (dalam wibsite islamlib.com.) yang menolak poligami dan komentar-komentar mereka terhadap yang pro poligami menarik kami untuk menanggapinya.

Pemikiran kalangan Islam Liberal tentang poligami

Beberapa pemikiran kalangan Islam Liberal (Islib) yang terdapat diwebsite mereka http://www.Islamlib. com, adalah sebagai berikut:

1. Isu Poligami dan gerakan kaum feminis

Sebenarnya isu poligami sudah dibahas sejak tahun 1919 dalam gerakan perempuan di Indonesia. Kemudian isunya menghangat sejak tahun 1935. Saat itu ada Kongres Perempuan Indonesia yang salah satu tuntutannya adalah dihapuskannya praktek poligami. Hanya saja, saat itu kaum perempuan terpecah dalam kubu-kubu. Kelompok yang sekuler mendesakkan agenda itu untuk direspon negara, sementara kelompok Islam menolak. Ini kemudian memecah gerakan perempuan Indonesia menjadi kubu sekuler dan kubu Islam.

Sebetulnya ada pergeseran yang cukup baik sejak disahkannya Undang-Undang Perkawinan tahun 1974. Di dalam undang-undang itu sudah ditetapkan bahwa laki-laki boleh berpoligami dengan persyaratan-persyaratan yang cukup ketat, di antaranya bila istrinya sedang sakit atau tidak bisa memberi keturunan. Itu sebetulnya sudah bentuk kemajuan. Sebelumnya, kaum perempuan relatif permisif atau menerima saja hitam-putih nasibnya ditentukan oleh orang lain. Baca Lanjutannya…

oleh: Nur Kholis Bibit Suardi, Lc.

Muqadimah

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang melimpah ruah terutama nikmat Islam dan Iman. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang beruntung dunia dan akherat.

Sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan  dalam kehidupan, mudah-mudahan kita termasuk golongan umat Nabi Muhammad SAW hingga akhir zaman, Amien ya Roabbal alamien.

Pedoman hidup utama umat Islam Al-lqur’an dan As-Sunnah kini dipermasalahkan oleh beberapa intelektual dan para oreintalis, para pengkritik al-Qur’an dan As-Sunnah bukan hanya dikalangan intelektual dan dosen bidang studi Islam saja, namun para mahasiswanya tak ketinggalan. Mereka ini bukan hanya mempermasalahkan penafsiran al-Qur’an dan as-Sunnah, akan tetapai juga teks-teks di dalamnya. Salah satu contoh penting penghujat al-Qur’an dan as-Sunnah yang dijadikan referensi bagi banyak mahsiswa dan para dosen di Indonesia adalah Nashr Hamid Abu Zayd intelektual Mesir yang sudah cukup terkenal di kalangan para intelektual, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan bagi umat Islam secara umum. Mudah-mudahan Allah SWT selalu membimbing kita ke jalan yang lurus, jalan yang diridhai oleh Allah SWT.

Nahsr Hamid Abu Zayd dan Pemikirannya

Beliau adalah pemikir modernis Mesir yang sangat terkenal oleh para pemerhati perkembangan pemikiran Islam dan pemikirannya banyak dianut dan diajarkan oleh para dosen dan mahasiswa intelektual Indonesi di beberapa Perguruan Tinggi dan kebanyakan pemikiran dibesarkan kepada mereka nyaris tanpa kriti. Pujaan dan pujian serta penghargaan terhadapnya bertaburan diberbagai buku jurnal, ruang-ruang perkuliahan, seminar dan situs-situs internet, bahkan oleh media Barat dipandang sebagai seorang pahlawan dalam dunia kebebasan berfikir, sementara di negaranya Mesir diputuskan kafir oleh Mahkamah dan di dukung oleh 2000 ulama’. Baca Lanjutannya…

Oleh: mpi3ums | 17 November 2009

Sinergitas dalam Dakwah: Suatu Keharusan

(Sebuah Renungan)

oleh: Andy Setyawan

Coba tengok pertandingan sepakbola. Seorang pelatih (kalau di Liga Inggris disebut manajer), harus meracik skuadnya dengan seimbang. Setiap pos punya keahlian tersendiri. Goalkeeper harus punya reaksi dan insting penyelamatan yang sempurna untuk menjaga agar gawangnya tetap “perawan”. Centre back harus punya kedisiplinan, kekokohan, dan kemampuan membaca serangan lawan secara jeli. Wing back harus punya gocekan lihai dan kecepatan berlari yang prima untuk maju membantu penyerangan dari sisi lapangan, sekaligus mundur dengan cepat untuk mendukung centre back ketika diserang.

Defend midfielder harus punya fisik kuat untuk mencegah lawan masuk daerah pertahanan, sekaligus kontrol sempurna untuk membangun dan menjaga irama permainan, dan bahkan visi agar bisa membagi bola. Attack midfielder harus punya kejeniusan dan kreatifitas untuk menciptakan serangan yang efektif dan berbahaya. Wing midfielder harus punya akurasi untuk memberi umpan silang kepada striker, sekaligus kecepatan pergerakan untuk melakukan “tusukan” dan membongkar sisi pertahanan lawan. Sedangkan striker harus punya naluri membunuh yang tajam untuk menggelontorkan gol-golnya ke gawang lawan.

Dan semua itu harus disinergikan dan diracik dengan sangat jeli; kelebihan dan kekurangan saling menutup dan menyempurnakan untuk membangun kekuatan tim yang menakutkan dan tak terkalahkan.

Begitu pula dengan dunia kerja. Direktur, manajer, hingga para staf harus bersinergi saling melengkapi.

Terlebih dunia dakwah. Tak ada orang yang bisa mengerjakan semua. Sehingga pembagian kerja dakwah berdasarkan potensi tiap personil harus dilakukan. Kaum pemikir harus bisa merumuskan teori-teori dakwah hingga terobosan-terobosan dakwah agar gemanya semakin luas, di saat yg sama harus terus mengkaji problem2 “anyar” dan membentengi orisinalitas Islam dari rongrongan pemikiran luar yg merusak. Penguasa publikasi dan ahli tulis-menulis harus mensosialisasi setiap pemikiran yg ditelurkan oleh kaum pemikir. Para figur publik dan sosok murabbi harus bisa merangkul seluruh lapisan masyarakat. Orator ulung harus bisa memberikan pencerahan dan menggerakkan masa untuk tujuan dakwah jangka panjang, bukan semangat (perang) sesaat. Dan mereka yg punya kelebihan tenaga fisik, harus mengerjakan pekerjaan teknis dan aksi di lapangan dg penuh keikhlasan (ikhlash) dan kesungguhan (mujahadah).

Ketika semuanya bersinergi, tidak ada alasan untuk mengatakan kita tidak kuat. Tapi kenyataannya, saat ini kita lemah. Maka kita perlu bertanya: Sudahkah kita bersinergi??? So, sinergi itu wajib, kawan!!!

 

Oleh: mpi3ums | 17 November 2009

Mencermati Fenomena Islam Progresif

(Kajian Kritis atas Pemikiran Nur Kholis Setiawan dalam Bukunya Akar-akar Pemikiran Progresif dalam Kajian al-Qur’an)

oleh: Andy Setyawan, S.ThI

I. PENDAHULUAN

Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk negeri ini. Meski persentasenya berkurang dari tahun ke tahun lantaran aktivitas Kristenisasi yang digencarkan oleh para misionaris Nasrani, setidaknya tidak kurang dari 70% penduduk Indonesia masih mengaku beragama Islam, yang ditunjukkan oleh status agama mereka yang tertera di Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Namun demikian, belajar Islam ternyata belum membudaya, jika tidak dikatakan sebagai “barang langka” sehubungan dengan makin jauhnya generasi muda dari agamanya. Hal ini dapat diindikasi dari antusiasnya mereka belajar ilmu-ilmu umum, tetapi “malunya” mereka jika harus belajar ilmu agama. Ada rasa rendah diri. Ada rasa gengsi. Dan ada imej negatif yang tertanam di benak mereka bahwa mempelajari Islam adalah suatu kekolotan dan tindakan “kampungan”. Islam diasumsikan sebagai sebuah keterbelakangan dan bertentangan dengan napas kemajuan dalam segala bidang.

Hal ini berdampak pada minimnya minat para pelajar untuk meneruskan studi tingkat tingginya di Perguruan Tinggi Agama Islam. Mereka berpikir tidak ada yang “dijanjikan” oleh studi Islam. Bahkan gelar kesarjanaannya pun kerap dipelesetkan, yakni S.Ag berarti Sarjana Alam Gaib –yang berarti manusia-manusia yang hanya mengurusi akhirat dan tidak realistis-. Mereka cenderung memilih jurusan-jurusan umum semacam Kedokteran, Psikologi, Hukum, Ekonomi, Teknik, dan sebagainya karena harapan indah untuk memperoleh masa depan menjanjikan dan pekerjaan berkelas selepas wisuda nantinya. Fenomena ini telah disinyalir oleh Dr. Adian Husaini dalam pengantar bukunya Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi:

“Harus diakui, untuk sekian lama, Studi Islam bukanlah mata kuliah yang diminati banyak mahasiswa. Jurusan-jurusan Dirasah Islamiyah jauh lebih kurang peminatnya dibandingkan bidang Komunikasi, Ekonomi, Hukum, Kedokteran, Teknik, dan sebagainya. Belajar ilmu-ilmu Islam di perguruan tinggi Islam dianggap tidak dapat menjamin masa depan. Karena itu, biasanya, yang memilih jurusan ini pun ‘mahasiswa-mahasiswa sisa’ yang tidak diterima di jurusan-jurusan lain. Sudah lama masalah ini menjadi perbincangan di kalangan tokoh dan akademisi muslim di Indonesia. Mengapa orang tidak tertarik belajar Ushul Fiqh, Tafsir, Hadits, Fiqh, Sejarah Islam, dan sebagainya. Pelajar-pelajar unggulan lebih diarahkan oleh orangtuanya untuk menimba ‘ilmu dunia’, dan bukan ‘ilmu agama’.”[1]

Dengan kuantitas dan kualitas input yang sangat memprihatinkan, institusi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) tidak dapat berbuat banyak dalam menghasilkan output yang unggul apalagi bisa menjawab tantangan zaman dan dinamika perubahan. Standar penerimaan mahasiswa rendah, dan tentunya standar kelulusan pun “dipermudah”. Alumni-alumninya dipandang sebelah mata, dan imej-imej negatif berupa tudingan keterbelakangan terhadap PTAI semakin menguat.

Situasi tidak menguntungkan ini mendorong PTAI untuk berbenah. Kualitas tenaga pengajar dan pengelola ditingkatkan. Materi perkuliahan diimprovisasikan. Tapi sayangnya, solusi yang diambil bukan tanpa risiko. Pengiriman para dosen untuk belajar Islam dari para orientalis di Barat yang dianggap maju membawa problem baru bagi konsep dan bangunan keilmuan Islam. Sejumlah konsep baku dalam Islam dan tradisi tafsir yang mapan menemui ancaman yang bisa merobohkan eksistensinya. Adian Husaini mencatat:

“Tetapi masalahnya kini semakin pelik lagi, karena dari jurusan-jurusan agama justru muncul pemikiran-pemikiran yang justru dekonstruktif terhadap keilmuan Islam itu sendiri. Gagasan-gagasan pengembangan ilmu-ilmu Islam dengan mengadopsi metodologi studi agama gaya Barat atau orientalis telah memicu masalah yang lebih serius dari masalah sebelumnya, yang hanya sekadar masalah kualitas keilmuan dan staf pengajar. Serbuan pemikiran dan metodologi studi agama yang telah dirumuskan oleh para orientalis Barat dan diterima dalam studi agama di kalangan agama Kristen membanjir laksana air bah; sulit dibendung, karena dilakukan oleh para petinggi dan dosen-dosen sendiri.”[2]

Bahkan, para thulab ini terpesona oleh Barat. Barat dinilai maju, digdaya, dan menghegemoni. Konsep keilmuan dan tata nilainya dirasa wajib diadopsi jika tradisi keilmuan di IAIN/UIN ingin maju. Selain itu, sokongan dana yang melimpah dari lembaga-lembaga donor –seperti The Asia Foundation dan Ford Foundation serta negara-negara Barat lain- guna membiayai beragam penelitian dan pengembangan terhadap tema-tema kontroversial –seperti pluralisme agama, teologi inklusif, dekonstruksi syariah, dekonstruksi konsep wahyu, dan sebagainya- semakin membuai hati dan membutakan mata para akademisi muslim berhaluan liberal. Sehingga, proyek liberalisasi kampus-kampus Islam menjadi sangat diuntungkan dan menemui jalan lapang.[3]

Konsekuensinya, metodologi studi orientalis merangsek masuk tanpa terbendung dan framework berpikir Barat menjadi pisau analisis yang “mu‘tabar” bagi kajian-kajian terhadap al-Qur’an dan Hadits. Bahkan kaidah-kaidah pendekatan yang selama ini dirumuskan dengan susah payah oleh para ulama dalam bentuk kaidah tafsir dan ushul fiqh disingkirkan. Mengkaji al-Qur’an dan Hadits dianggap tidak ilmiah dan sangat terbelakang serta memiliki dimensi yang sempit jika tidak melibatkan framework Barat sebagai pisau analisisnya. Alhasil, paham-paham Barat –semisal Sekularisme, Pluralisme, Relativisme, hingga Liberalisme- dengan sangat leluasa menggurita ke lingkungan IAIN/UIN dan perguruan tinggi Islam lainnya di Indonesia.

Salah satu produk keterpesonaan anak muslim bangsa ini terhadap Barat adalah lahirnya Pemikiran Islam Progresif. Apa dan bagaimana sepak terjang Pemikiran Islam Progresif ini di Indonesia akan dibahas dalam makalah ini. Referensinya langsung kepada orang yang menganut Pemikiran Progresif ini, Dr. Phil. Nur Kholis Setiawan, seperti tertuang dalam karyanya yang berjudul Akar-akar Pemikiran Progresif dalam Kajian al-Qur’an. Baca Lanjutannya…

Oleh: mpi3ums | 17 November 2009

Kiblat Akademisi Muslim: Barat ataukah Islam?

oleh: Andy Setyawan, S.ThI

SEMANGAT ILMIAH: PATUT DISYUKURI TAPI ADA “PR” YANG HARUS DIATASI

Dewasa ini muncul semangat pembaharuan dari kalangan akademisi yang memandang bahwa umat Islam berada pada kondisi tradisi ilmiah yang kronis, jumud, serta tidak mampu memecahkan berbagai tantangan dan persoalan kontemporer. Kejenuhan terhadap fenomena ini mendorong beberapa kelompok dan individu mencoba melakukan studi dengan metode pendekatan yang “lebih segar” terhadap Islam.

Ditinjau dari landasan epistemologi, perangkat kajian, serta praktik dalam mengaplikasikan metodologi studi di lapangan, kita bisa melihat bahwa kalangan yang punya semangat pembaharuan ini terbagi menjadi 2 kelompok. Pertama adalah mereka yang berkiblat kepada khasanah Islam dengan merujuk pada Tsaqafah Islamiyah. Kedua adalah mereka yang berkiblat ke Barat dengan merujuk pada Tsaqafah Gharbiyah[1]. Baca Lanjutannya…

Berikut ini terlampir Handout garis besar mata kuliah Pendekatan dalam Kajian Islam MPI-UMS konsentrasi Pemikiran dan Peradaban Islam kelas kelompok DDII (gab reguler), sekaligus pembagian tugas seminar kelas.

GARIS BESAR MK PENDEKATAN DALAM KAJIAN ISLAM

Oleh: mpi3ums | 17 November 2009

Revisi Jadwal Kuliah Semester I

Pada jadwal sebelumnya terdapat kekeliruan penulisan tanggal kuliah, yaitu:
Jumat, 27 Nop 2009: Ust. Adian Husaini
Sabtu 28 Nop 2009: Ust. Syamsul Hidayat

Seharusnya adalah:
Jumat, 04 Desember 2009: Ust. Adian Husaini
Sabtu, 05 Desember 2009: Ust. Syamsul Hidayat

Jadwal terbaru selengkapnya adalah sebagai berikut:

JADWAL REVISI SMT I DDII 09_10
Demikian, harap menjadi perhatian.
Jazakumullah khairan.

Oleh: mpi3ums | 16 November 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

« Newer Posts

Kategori