Oleh: mpi3ums | 2 Januari 2010

IBN TAIMIYYAH DAN TEOLOGI-INKLUSIF CAK NUR

Oleh: Beny, S.PdI

Salah satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah: Paham Pluralisme Agama yang terus digulirkan. Dimana paham ini berakhir pada titik relativisme (al-nisbiyyah) kebenaran. Semua agama dianggap benar: sama-sama valid (equality valid). Paham ini dikembangkan secara massif oleh kaum yang mengaku pluralis-inklusif. Paham Pluralisme Agama ini kemudian dikemas dalam berbagai bentuk dan cara. Salah satunya adalah dalam bentuk “penggeseran” sekaligus “penggusuran” makna al-Islam. Sehingga, Makna ini dikembangkan dan diperluas makin rancu dan jauh dari pemahaman ulama Muslim, baik klasik (Mutaqaddimin) maupun modern (Mu’ashirin).

Seperti yang dilakukan oleh Nurcholish Majid dalam bukunya “Islam Doktrin dan Peradaban” ia menyatakan bahwa al-Islam itu bukan nama satu agama (proper name). Kata al-Islam dalam Al-Quran (khususnya Qs. Ali ‘Imran [3]: 19, 85) dimaknai dengan “ketundukan dan kepasrahan total”. Oleh karenanya, agama apa saja jika mengandung makna itu, disebut sebagai al-Islam juga. Agama-agama di luar agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wasallam oleh mereka disebut sebagai al-Islam al-‘Amm (Islam Umum). Karena agama-agama yang lain juga disebut oleh Nurcholish sebagai Islam Umum (al-Islam al-‘Amm), maka Islam bukan al-din yang final. Akhirnya makna al-Islam digeser dan akibatnya jalan menuju Allah bukan hanya agama Islam. Agama lain juga merupakan jalan-jalan menuju hadirat-Nya.

Untuk menguatkan pendapatnya, Nurcholish mengutip perkataan ibn Taimiyyah dalam masalah ini bahwa:

“Perkataan  “al-islam” mengandung pengertian perkataan “al-istislam” (sikap berserah diri) dan “al-inqiyad” (tunduk patuh), serta mengandung pula makna perkataan “al-ikhlash” (tulus)….Maka tidak boleh tidak dalam Islam harus ada sikap berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa, dan meninggalkan sikap berserah diri kepada yang lain. Ini lah hakikat ucapan kita “Laa ilaaha illa al-Allah”. Maka jika seseorang berserah diri kepada Allah dan (sekaligus juga) kepada selain Allah, dia adalah musyrik.[1]

Setelah itu, Nurcholish mengutip firman Allah dalam Qs. Al-Anbiya’[21]: 25 untuk menegaskan konsep La ilaha illa al-Allah. Dimana hal itu, menurutnya, menegaskan konsep kesatuan ajaran dan kebenaran ajaran para nabi. Ini kemudian ditegaskan lagi oleh Qs. Al-Anbiya’ [21]: 95. Kemudian dia menyatakan: “Maka dapat diringkaskan bahwa ajaran al-Islam dalam pengertian generik seperti ini adalah inti dari saripati semua saripati para nabi dan rasul.”

Untuk menguatkan itu, dia mengutip kembali pendapat ibn Taimiyyah berikut ini:

Oleh karena pangkal agama, yaitu “al-islam”, itu satu, meskipun syari‛atnya bermacam-macam, maka Nabi s.a.w. bersabda dalam hadisnya, “Kami, golongan para nabi, agama adalah satu,” dan “para nabi itu semuanya bersaudara, tunggal ayah dan lain ibu,” dan “Yang paling berhak kepada ‛Isa putra Maryam adalah aku,” Oleh karena pangkal agama, yaitu “al-islam”, itu satu, meskipun syari‛atnya bermacam-macam, maka Nabi s.a.w. bersabda dalam hadisnya, “Kami, golongan para nabi, agama adalah satu,” dan “para nabi itu semuanya bersaudara, tunggal ayah dan lain ibu,” dan “Yang paling berhak kepada ‛Isa putra Maryam adalah aku,”

Setelah itu, Nurcholish menambahkan:

“Dari sudut pandang inilah kita dapat memahami lebih baik penegasan dalam Kitab Suci bahwa penganut agama selain al-islam atau yang tidak disertai sikap penuh pasrah dan berserah diri kepada Allah, adalah suatu sikap yang tidak sejati, karena itu tertolak. Sekalipun secara sosiologis dan formal kemasyarakatan seseorang adalah “beragama Islam” atau “Muslim”, namun jika tidak ada padanya ketulusan sikap-sikap al-islam itu, ia juga termasuk kategori sikap keagamaan yang tidak sejati, dan tertolak. Penegasan dalam Kitab Suci itu termuat dalam firman Ilahi yang amat terkenal, “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah al-islam[2]

Makna Islam  menurut ibn Taimiyyah sama persis dengan apa yang dijelaskan oleh Nurcholish tetapi yang berbeda adalah kesimpulannya dimana Nurcholish memahami makna islam dengan ketundukan dan kepasrahan saja, tanpa melihat kepada siapa ketundukkan dan kepasrahan itu ditujukan dan dengan cara apa seseorang itu tunduk dan pasrah. Padahal kalo kita memahami lanjutan penjelasan ibn Taimiyyah maka kita akan mengetahui bahwa ketundukkan dan kepasrahan itu hanya kepada Allah dengan syari’at yang telah diturunkan kepada nabi dan rasulnya walaupunm secara etimologi, islam mengandung makna “kepasrahan dan ketundukan dan keikhlasan”  yang diambil dari firman Allah  dalam Qs. Al-Zumar [39]: 29, tetapi harus ada dalam Islam itu sikap kepasrahan dan ketundukan kepada Allah dan  tidak tunduk dan pasrah kepada selainNya dan inilah hakikat ucapan La Ilaha Illa Allah, Siapa yang tunduk dan pasrah kepada Allah dan kepada selainNya maka ia adalah musyrik dan Allah tidak mengampuni jika ia disekutukan dengan yang lainnya, siapa yang tidak tunduk dan pasrah kepada Allah maka ia termasuk orang yang sombong untuk beribadah kepadaNya (Qs. Ghafir [40]: 60). Maka Yahudi tunduk dan dan Nashrani bukanlah orang yang  tunduk dan pasrah kepada Allah dengan syari’at yang diturunkan kepada nabi dan rasul yang diutus kepada mereka. Yahudi memiliki  kesombongan dan Nashrani melakukan kesyirikan sebagaimana Allah sebutkan  dalam Qs.Al-Baqarah [2]: 87 dan Qs.At-Taubah [9]: 31.[3] Maka setiap orang melakukan  kesombongan dan  kesyirikan terhadap Allah maka mereka bukanlah seorang muslim[4] seperti firman Allah dalam Qs.Al-Baqarah [2]: 130-132, Al-An’am [6]: 161-162.

Adapun tentang adanya Islam umum-Islam Khusus (al-Islam al-Amm-al-Islam al-Khass) yang dinisbatkan oleh Nurcholish Madjid kepada Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyyah  dengan pemahaman bahwa ada orang-orang dan agama islam umum (yang non-Muslim par execellence) yang dinisbatkan kepada setiap agama-agama yang dianut manusia selama tunduk dan pasrah kepada Tuhan dan orang-orang dan agama Islam khusus (Muslim par execellence) tidak tepat. Maka perlu dipertanyakan di sini: jika kata al-Islam dalam Qs. Ali ‛Imran [3]: 19 dan 85 bukan al-Islam al-Khass, lantas Islam apa? Bukankah Ibnu Taimiyyah juga sudah menjelaskan panjang lebar tentang hadist yang menyanggah pendapat kaum Yahudi dan Nashrani tentang penolakan mereka untuk menunaikan Haji ke Makkah? Artinya, mereka tidak murni ber-Islam seperti yang diinginkan oleh Allah dan rasul-Nya

Ibn Taimiyyah dalam banyak bukunya menyebutkan istilah al-islam al-‘amm dan al-islam al-khass[5]. Kedua istilah ini sebenarnya memiliki pengertian yang sama dan perbedaannya hanyalah perbedaan lafziyah saja.

Al-Islam al-‘Amm adalah agama para nabi dan rasul sebelum diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agama mereka satu yaitu sikap tunduk dan pasrah kepada Allah  dengan bertauhid,  walaupun mereka memiliki syari’at yang berbeda-beda, Ibnu Taimiyyah menyatakan

Orang-orang berbeda pendapat tentang  umat nabi Musa dan ‘Isa yang  hidup pada masa itu, apakah mereka muslim atau bukan? Maka al-islam al-khas dimana Allah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengannya yang mencakup syari’at al-Qur’an maknanya hanya tertuju kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Islam pada hari ini secara mutlak hanya mencakup syari’at yang terdapat dalam al-Qur’an saja. Adapun al-islam al-am mencakup setiap syari’at yang Allah turunkan kepada  para nabi, maka itu mencakup  islamnya setiap umat yang mengikuti seorang  nabi dan inti Islam secara mutlak adalah persaksian Tidak ada Ilah selain Allah[6]

Kemudian beliau menyatakan dalam buku al-shafadiyah,

Sesuatu yang sudah diketahui bahwa keadaan manusia sebelum terjadinya kesyirikan berada di atas agama yang satu dan fitrahnya sebagaimana Allah menciptakan mereka diatas fitrah tersebut dan itulah agama al-islam al-‘am dimana Allah tidak menerima dari seseorang selain darinya sebagaimana firman Allah: Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.(Qs.10: 19)[7]

Jika kita simpulkan dari yang dijelaskan oleh  Ibnu Taimiyyah maka makna al-Islam al-Amm adalah:

  1. Beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya, beriman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya dan hari kiamat.
  2. istislam yang berarti  sikap ketundukan dan kepasrahan yang berarti ketaatan hanya kepada Allah saja, Jika ketaatan itu kepada Allah dan kepada selain-Nya atau ketaatan itu kepada Selain-Nya maka ia telah melakukan kekufuran, kesyirikan dan kesombongan.
  3. Prinsip-prinsip yang bersifat universal yang menjadi inti  risalah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul seperti: perintah untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya, berbuat adil, jujur, shalat, zakat dan larangan untuk berbuat zhalim, keji dan sebagainya
  4. Syahadat  La Ilaha Illa al-Allah sebagai pokok agama Islam

Jadi agama para nabi dan rasul tersebut satu yaitu al-Islam dan inilah yang dimaksud oleh ibn Taimiyyah dengan al-islam al-‘amm yaitu ketundukan kepada Allah dengan hanya beribadah kepadaNya dengan ikhlas dan taat kepadaNya yang mencakup syariat-syariat setiap nabi-nabi terdahulu (umat sebelum kita) seperti  firman Allah yang menyebutkan doa nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Qs 2: 128)

Sedangkan al-Islam al-Khass adalah risalah yang diturunkan kepada nabi Muhammad  shalla al-Allah ‘alaihi wa sallam yang syariatnya terkandung dalam al-Qur’an dan hal tersebut hanya dinisbahkan kepada umat Muhammad shalla al-Allah ‘alaihi wa sallam secara mutlak sebagai sebuah nama agama yang menghapuskan seluruh ajaran nabi dan rasul terdahulu, sehingga orang yang mengikuti beliau berarti telah Islam, sedangkan yang menolak beliau bukan Islam. Pengikut para rasul adalah muslim di zaman rasul mereka. Maka Yahudi adalah muslim di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, dan Nashrani adalah muslim di zaman nabi ‘Isa ‘alaihissalam, jika mereka benar-benar mengikuti syariat rasul mereka. Adapun setelah nabi Muhammad shalla al-Allah ‘alaihi wa sallam diutus, lalu mereka tidak mau beriman kepada beliau maka mereka bukan muslim.

Agama Islam inilah yang diterima oleh Allah dan Dia tidak menerima agama  selainnya.  Al-Hafidz ibn Katsir menjelaskan tentang firman Allah Qs. Ali ‘Imran [3]: 19:

Allah menurunkan agama Islam, dengan mengikuti para rasul dalam pengutusannya pada setiap masa, sampai ditutup oleh Nabi Muhammad mengabarkan bahwa tidak ada agama yang diterima di sisi-Nya selain dan Rasul yang akhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Allah menutup seluruh jalan kepada-Nya kecuali dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan begitu, siapa pun yang bertemu dengan Allah setelah diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan beragama selain syariat yang beliau bawa dan ajarkan, maka tidak diterima agama tersebut darinya.”[8]

Agama Islam inilah yang Allah anugerahkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan umat beliau, dan Allah nyatakan sebagai agama yang diridhai-Nya.(Qs. Al-Maidah [5]:3). Dalam ayat tersebut, Allah mengatakan dengan sangat jelas bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang cocok diterapkan di setiap zaman, setiap tempat dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan. Islam adalah agama dan negara (daulah), di dalamnya terdapat manhaj yang haq dalam bidang hukum, peradilan, politik, kemasyarakatan dan perekonomian serta segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dunia mereka, dan dengan Islam nantinya mereka akan bahagia di kehidupan akhirat.


[1] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina bekerjasama dengan PT. Dian Rakyat, cet. VI, 2008), hlm. 176.

[2] Nurcholish Madjid, ibid., hlm. 178-179.Tentang makna al-Islam Nurcholish Madjid ini, dapat juga dilihat tulisannya Dialog Agama-agama dalam Perspektif Universalisme al-Islam, dalam Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed.), Passing Over: Melintasi Batas Agama, (Jakarta: Gramedia bekerjasama dengan Paramadina, cet. II, 1999), hlm. 15-20

[3] Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad ibn ‘Abd al-Halim, Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim li Mukhalafati Ashab al- Jahim, Beirut: Darul ‘alami al-Kutub, cet. 7, 1419H/1999.  vol.2  , hlm 377 – 388

[4]————————————————, An-Nubuwat,  Riyadh: Adhwa’ As-Salaf , cet.1, 1420,  hlm. 347

[5] Pembahasan tentang  al-Islam al-‘Amm dan al-Islam al-Khass juga dapat dilihat dalam: Risalah Tadmuriyah Mesir: Mathba’ah al-Salafiyah, 1397/1977, hlm. 53, al-Fatawa al-Kubra, Beirut: Dar al-Ma’rifah, hlm. 400, Ar-Raddu ‘ala al-Mantiqiyyin, Pakistan: Dar Turjuman al-Sunnah, 1976,  hlm.455, Al-Amru bi al-Ma’ruf wa an-Nahyu ‘ani al-Munkar Wizarah al-Syu’un al-Islamiyyah wa al-Auqaf wa al-Da’wah wa al-Irsyad, cet.I, hlm.74, Al-Istiqamah, Riyadh: Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Su’ud, 1403, vol.2 hlm.203[Keywords]

[6] ‘Abd al-Rahman ibn Nashir al- Barak, Syarh al-Risalah al-Tadmuriyah, hlm.444

[7]Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad ibn ‘Abd al-Halim, Kitab al-Shafadiyyah, Mesir: Maktabah Ibn Taimiyyah, cet.II, 1406,  Tahqiq: Dr.Muhammad Rasyad Salim. vol. 2 hlm 243

[8] Abu al- Fida’ Ismail ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Riyadh: Dar al-Salam dan Damaskus: Dar al-faiha’, cet.II, 1423/2002. vol.1 hlm. 472

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: