Oleh: mpi3ums | 24 November 2009

Bahaya Faham Inkar Sunnah

oleh: Sukahar, S.PdI

MUQODDIMAH

Faham inkar sunnah sangat berbahaya untuk umat,karena faham ini mencoba memisahkan As sunnah dari dasar hukum Islam,menurut pegikutnya As sunnah tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum islam,hukum islam hanyalah Al quran,karena Alquran jelas sebagai kalamullah,sedangkan As sunnah adalah sabda Nabi yang masih diragukan kebenarannya,memang  Nabi sebagai Rosulullah tidak diragukan tetapi keberadaan As sunnah sendiri itu disampaikan oleh orang-orang dekat nabi,yang kodifikasinnya selang sekian lama setelah kenabian maka memungkinkan ketidak benarannya,beginilah anggapan mereka.

Lalu apakah sebenarnya bisa diterima, benarkah alasannya, jika demikian halnya maka sama artinya meragukan kemulyaan akhlak para sahabat beliau dan generasi setelahnya, padahal Al quran sendiri telah menyatakan keagungan generasi sahabat dan dua kurun generasi setelahnya (lihat QS At taubah: 100 ).

Faham ini akan menyingkirkan sekian banyak nilai-nilai islam dari kehidupan disamping itu akan terjadi pembodohan umat dikarenakan nilai-nilai luhur dan sifat- sifat kepribadian Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam dihapus dari dasar-dasar islam.Padahal tidak mungkin kita bisa memahami,mengerti penjabaran dan penerapan ajaran-ajaran syariat Al quran tanpa As sunnah,dan para sahabatlah yang mengilmui betul tentang prilaku,ucapan dan sabda-sabda beliau.Mungkinkah kita menolak As sunnah? Jelas tidak mungkin.Maka Al quran dan As sunnah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.Inkar sunnah faham sesat,bak racun yang mematikan.Waspadalah!

Akhir-akhir ini terdapat usaha yang disusun secara sistematis oleh kelompok inkar sunnah untuk meruntuhkan konsep hadits sebagai sumber ajaran Islam. Intisari usaha mereka ialah menolak hadits dan hanya menerima al-Quran sebagai sumber ajaran Islam. Salah satu alasan utamanya ialah Nabi Muhammad saw. hanya diutus menyampaikan al-Quran saja. Oleh sebab itu, hadits, apalagi ijma dan kias, harus di tolak.. Mereka juga berpendapat bahwa al-Quran bukan hanya berbahasa arab. Terjemahan al-Quran adalah al-Quran. Jadi, al-Quran sebagaimana Injil, bisa terdapat dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Melayu, mereka menerbitkan Bacaan sebagai pengganti al-Quran. Penolakan mereka kepada hadits disebarkan melalui penerbitan berbagai macam karya cetak dalam bentuk buku dan leaflet, di dalam website seperti www.malaysia.net www.submission.org www.ropelist.com dan tentunya juga dengan cara lain yang bervariasi. Dan tidak lain Propaganda ini bertujuan hanyalah untuk meniadakan akidah dan syariah. Ajaran inkar sunnah ini sudah bermula pada abad kedua Hijrah. Imam Syafi’i sudah mengkritik secara tegas pemahaman ‘nyeleneh’ ini yang saat itu hanya diikuti segelintir orang.

PENGERTIAN SUNNAH

Menurut bahasa: Jalan dan sejarah, baik itu terpuji ataupun tercela.

Menurut ahli fiqh: Ketetapan dari Rasulullah tetapi tidak bukan wajib.

Menurut ahli usul: Yang bersumber dari Rasulullah selain Al-Quran, baik berupa     ucapan, perbuatan ataupun ketetapan.

KEABSAHAN SUNNAH SEBAGAI DALIL

Kaum muslimin telah bersepakat bahwa Sunnah merupakan salah satu sumber landasan hukum yang digunakan oleh para mujtahid. Ia menempati posisi kedua setelah Al-Quran. Diantara yang menjelaskan akan hal ini:

  1. Perintah Allah untuk mengikutinya.

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya).” (QS. Al-Nisa’: 59)

  1. Ancaman Allah bagi siapa yang menyelisihinya.

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. Al-Nur: 63)

  1. Termasuk dasar keimanan.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. Al-Nisa’: 65)

  1. Taat kepada Rasul termasuk bagian taat kepada Allah.

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.”5

  1. Para sahabat mengamalkan sunnah Rasulullah dikala Rasul masih hidup dan telah wafat, baik itu yang bersifat perintah ataupun larangan dan mereka selalu berpegang teguh padanya.
  2. Sunnah merupakan sebagai penjelas dari apa yang Allah wahyukan berupa Al-Quran, apabila kita tidak mengamalkan sunnah, maka akan terjadi kekacauan dalam melaksanakan printah Allah seperti ; Shalat, zakat dan haji. Karena perintah didalam Al-Quran bersifat umum dan global, sementara sunnah datang sebagai penjelas dan pemerincinya.

TUGAS RASULULLAH

Kelompok inkar sunnah salah fatal ketika menceraikan hubungan mesra antara al-Quran dan hadits. Hadits muncul sebagai perintah dan penjelas kepada al-Quran dan karenanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa hadits, memahami dan melaksanakan perintah adalah tidak mungkin. Rasulullah saw. sendiri sebagai manusia yang paling mengerti tentang kandungan wahyu tersebut bertanggung jawab untuk menyampaikannya dan menjelaskannya kepada ummat manusia saat itu. Para sahabat memiliki akidah dan syariah justru setelah Rasulullah s.a.w. menyampaikan, menjelaskan dan mengajarkan kandungan al-Quran. Jadi, menolak hadits berarti menolak apa yang disampaikan, dijelaskan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.

1. Rasulullah saw. menjelaskan isi al-Quran karena terkadang ia berisi ayat – ayat yang susah difahami atau ada kesamaran makna, seperti ayat-ayat yang umum, khass, mutlaq, muqayyad, dan lain-lain.

Firman Allah dalam surat al-Nahl ayat 44:

“Dan kami turunkan kepadamu al-Quran supaya kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”

Ayat ini menyebutkan bahwa Rasulullah saw bukan sekedar menyampaikan al-Quran tapi harus juga menerangkannya kepada para sahabat ra. Al-Quran, misalnya, hanya menyebutkan shalat, zakat, puasa dan haji. Rasulullah s.a.w. berperan untuk merincikan semua perkara itu.

2. Peranan Rasulullah juga disebutkan dengan jelas dalam surat al-Nahl ayat 64 seperti berikut:

“Dan kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman”.

Ayat ini menerangkan bahwa Rasulullah saw. bertugas sebagai penentu batas kebenaran ketika terjadi perselisihan pendapat di kalangan umat manusia.

3. Selain itu juga, Rasulullah saw mengajarkan al-kitab (al-Quran) dan hikmah bagi orang-orang yang beriman ;

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Ali Imran: 164)

Ayat lain bahkan menegaskan bahwa iman seseorang akan dinafikan jika menolak menerima keputusan yang diberikan oleh Rasulullah saw. sebagaimana dalam surat al-Nisa’: 65 seperti berikut ini:

(Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.)

Jadi tidak dapat diingkari lagi bahwa umat Islam harus patuh kepada Rasulullah saw. yang memang dalam dirinya terdapat contoh teladan bagi kita semua. Sebagaimana juga tercantum dalam surat al-Ahzab: 21:

(Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah)

Jadi kelompok inkar sunnah telah mengingkari peran Rasullullah saw. sebagai penjelas, penerang, penafsir al-Quran dan contoh terbaik bagi ummat.

Jika kelompok inkar sunnah menolak hadits, seharusnya menyebabkan mereka juga menolak al-Quran. Ini disebabkan al-Quran itu bisa menjadi kitab suci justru karena adanya peran para sahabat ra. Tanpa peran para sahabat, ummat Islam tidak akan mungkin memiliki al-Quran yang suci itu. Jadi, kelompok inkar sunnah inkonsisten karena disatu sisi mereka mempercayai para sahabat ra yang meriwayatkan al-Quran namun disisi yang lain mereka tidak mempercayai para sahabat ra. yang meriwayatkan hadits.

Kelompok inkar sunnah juga tidak mengetahui sejarah pengkodifikasian al-Quran. Semua sarjana sepakat bahwa sejarah pengkodifikasian mushaf Usmani bermula dari perbedaan cara baca al-Quran. Selain itu, mereka semua juga mengakui terdapat berbagai macam mushaf pribadi para sahabat Rasulullah. Jadi, seandainya kelompok inkar sunnah menerima hanya al-Quran mushaf Usmani sebagai al-Quran yang otentik, maka mereka tidak mengerti bagaimana sumbangan para sahabat dalam menjaga kesucian al-Quran sehingga tetap menjadi otentik.

Mereka juga telah mengetepikan syarat penting periwayatan al-Quran yaitu sanad yang sahih. Mereka tidak menyadari bahwa al-Quran itu didasarkan kepada sanad. Justru, karena adanya riwayat, sistem sanad yang berangkai, maka al-Quran itu bisa dikodifikasikan. Sistem sanad ini yang selanjutnya menjadi inti dari ilmu Hadits. Jadi, karena kelompok inkar sunnah menafikan otentisitas sanad, maka mereka mereka juga seharusnya menafikan al-Quran, namun tidak mereka lakukan. Jadi, metodologi kelompok inkar sunnah tidak konsisten.

Selain itu, seharusnya keraguan mereka kepada al-Quran lebih besar karena banyaknya dan seriusnya perbedaan yang terjadi mengenai pengkodifikasian mushaf Usmani. Jadi, jika kelompok inkar sunnah menerima al-Quran, mereka harus menerima hadits, karena al-Quran mushaf Usmani itu justru menjadi kitab suci setelah diriwayatkan secara mutawatir. Zaid bin Tsabit yang mengetuai panitia khusus pengkodifikasian al-Quran, akan menerima suatu ayat untuk dimasukkan kepada al-Quran setelah melalui penyeleksian. Jika ayat yang akan dimasukkan itu sesuai dan disaksikan oleh para penghafal al-Quran yang lain, maka ayat itu bisa dimasukkan. Dalam menerima kesaksian para penghafal, Zaid dan para sahabat yang lain membuktikan terlebih dahulu bahwa hafalan atau tulisan yang tersebar di batu, papan, tulang, pelana dan kain mengikut riwayat (al-rasm tabi’ li al-riwayah). Jadi, tulisan itu harus mengikut riwayat yang sampai kepada Rasulullah s.a.w. Tanpa isnad yang sampai kepada Rasulullah saw. maka cara baca al-Quran itu akan di tolak, dan di anggap bacaan yang keliru.

Hal ini juga menunjukkan bahwa metodologi hadits sudahpun digunakan dalam menuliskan al-Quran. Kita bisa mengetahui sejarah al-Quran justru hanya dari hadits. Seandainya hadits di tolak, maka sejarah al-Quran mushaf Usmani tidak diketahui. Oleh sebab kita mengetahui sejarah al-Quran, maka pemahaman inkar sunnah sangat mengelirukan.

Kesalahan lain dari kelompok inkar sunnah ialah mereka menerima pendapat para Orientalis seperti Goldziher, Joseph Schacht dan lain – lainnya. Mereka semua keliru karena menganggap munculnya hadits itu sekitar pertengahan abad kedua Hijrah. Ini disebabkan oleh kejahilan mereka terhadap perbedaan antara tadwin, tasnif dan kitabah, haddathana, akhbarana, dan ‘an. Selain itu, mereka mereka juga tidak memahami kekuatan hafalan orang-orang arab pada masa itu dan menyalah tafsirkan hadits – hadits tentang pelarangan penulisan hadits.

Kelompok inkar sunnah juga sangat keliru ketika menganggap bahwa hadits bertentangan dengan al-Quran. Kekeliruan yang sangat fatal ini disebabkan mereka menafsirkan ayat – ayat al-Quran sesuai dengan agenda mereka serta tidak mengetahui hukum – hukum pertentangan secara logika.

SYUBHAT YANG DILONTARKAN PARA PENGINGKAR SUNNAH

  1. Landasan hukum dalam Islam terbatas pada Al-Quran saja. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah bahwa Dia telah menyempurnakan agama-Nya. Sedangkan Al-Quran telah menjelaskan segala sesuatunya. Adapun hadits, hanyalah merupakan kebijaksanaan seorang pemimpin dan ijtihadnya yang bisa berubah-ubah menyesuaikan kemaslahatan, bukan merupakan sumber hukum yang cocok untuk setiap keadaan & zaman. Bila hadits merupakan landasan hukum, tentu Rasulullah menyuruh sahabat menulusnya agar tidak hilang.

Bantahannya: Kandungan makna yang benar dari kedua ayat yang mereka paparkan adalah: telah sempurna dan lengkap apa yang kamu butuhkan dari dasar-dasar halal haram dan kaidah-kaidah dasar hukum segala sesuatu. Akan tetapi kesemuanya itu bersifat umum , global. Maka perlu ada penafsiran, perincian. Yang dalam hal ini diperankan oleh Al-Hadits. Hal ini senada dengan makna ayat ke-44 dari surat an-Nahl.

  1. Sebagian mereka mengingkari keabsahan hadits ahad karena dia hanya melahirkan prasangka, sedangkan kita tidak boleh beribadah kepada Allah hanya dengan prasangka.

Bantahannya:

    • Kita mengamalkan hadits ahad bukan berarti beribadah kepada Allah dengan prasangka, tetapi kita beribadah kepada Allah dengan perasangka kejujuran pembawa berita. Sebagaimana kita menetapkan hilal pada Ramadhan.
    • Rasulullah mengirim delegasi ke pelbagai negara untuk dakwah islamiyah, dan mereka itu perorangan. Ini adalah dalil yang nyata.
    • Dalam surat At-Taubah ayat 122,  kalimat الطا ئفة   dalam bahasa arab juga bisa bermakna satu orang saja
  1. Mereka mencela ahli hadits, diantaranya adalah Abu Hurairah;  Bahwa beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tetapi tidak menulusnya, bahkan beliou juga meriwayatkan hadits dari sahabat lainnya. Sedangkan sebagian sahabat diragukan kejujurannya.

Bantahannya:

    • Beliuau banyak meriwayatkan hadits karena kecerdasannya. Sebelum masuk islam jelek hafalannya, setelah masuk islam dan mendapat do’Al-Qur’an Rasulullah maka beliou menjadi sahabat yang paling bagus hafalannya serta paling banyak, disamping juga karena beliou memiliki waktu paling banyak untuk mendampingi rasulullah.
    • Beliau tidak menulis hadits, ini bukanlah rahasia umum,  mayoritas sahabat juga tidak menulis hadits karena memang mereka tergolong masyarakat yang ummi (tidak bisa baca tulis).
    • Beliau meriwayatkan hadits dari para sahabat, ini juga bukan merupakan sesuatu yang aib, mayoritas sahabat juga melakukan hal yang serupa, terutama para sahabat yang masih muda atau yang akhir masuk islamnya. Hai itu mereka lakukan karena mereka tahu bahwa para sahabat itu adil dan diterima periwayatannya.

FAHAM INGKAR SUNNAH DI INDONESIA

Faham sesat ini muncul sekitar tahun 1980-an. Mereka menamakan pengajian yang mereka adakan dengan sebutan Kelompok Qurani (Kelompok pengikut Al-Quran).

Pokok –pokok ajaran Ingkar Sunnah7:

  1. Tidak percaya kepada semua hadits Rasulullah, menurut mereka hadits itu bikinan Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam.
  2. Dasar hukum dalam Islam hanya Al-Quran saja.
  3. Syahadat mereka:

اشهدوا  بانا مسلمون

  1. Shalat mereka bermacam-macam. Ada yang shalatnya dua rakaat- dua rakaat, ada juga yang shalatnya hanya eling saja.
  2. Puasa wajib bagi yang melihat bulan saja, kalau yang melihar bulan satu orang saka maka hanya dia yang puasa, mereka berpendapat demikian karena merujuk pada ayat;

فمن شهد منكم الشهر فليصمه

  1. Haji boleh dilakukan selama empat bulan haram, yaitu: Muharram, Rajab, Dzulqadah dan Dzulhijjah.
  2. Pakaian ihram adalah pakaian arab dan membikin repot. Oleh karena itu waktu menunaikan haji boleh memakai celana panjang dan baju biasa serta memakai jas atau dasi.
  3. Rasul tetap diutus sampai hari kiamat
  4. Nabi Muhammad tidak berhak menjelaskan tentang ajaran Al-Quran (kandungan isi Al-Quran)
  5. Orang yang meninggal dunia tidak diShalati karena tidak ada perintah Al-Quran.

PENUTUP

Tulisan yang sangat ringkas ini menyimpulkan bahwa pemisahan antara al-Quran dan hadits adalah tidak mungkin. Menerima al-Quran tanpa hadits berarti menolak al-Quran itu sendiri. Selain itu, memahami al-Quran tanpa melibatkan peran Rasulullah s.a.w. akan menyesatkan. Selain itu juga, ummat Islam perlu lebih mendalami kembali ilmu tentang hadits supaya sumber ajaran Islam tidak terkikis habis oleh gerakan inkar sunnah dan gerakan – gerakan lain yang seirama dengan mereka.Wallahu A’lam Bisshowab.

Iklan

Responses

  1. Sekarang orang lebih percaya hadist daripada Al Quran, padahal ada yang maknanya berbeda dan bertentangan. Benarlah yang dikatakan Quran bahwa pada hari kiamat nanti nabi mengeluh kepada Allah bahwa Al Quran diabaikan oleh umatnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: