Oleh: mpi3ums | 23 November 2009

Resume Ceramah Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

oleh: Andy Setyawan

 

Islamisasi ilmu bukanlah sebuah proyek Arabisasi. Islamisasi ilmu tidak berkenaan dengan atribut dan tampilan performa luar, semacam gaya berpakaian dan sebagainya, tetapi berkaitan dengan aspek ideologis, teologis, dan pandangan hidup. Islamisasi ilmu digulirkan bukan untuk “menggamiskan” dan “menyorbankan” manusia, tapi untuk melahirkan manusia-manusia yang berpemikiran dan berpandangan hidup islami.

 

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud, Felo Penyelidik Utama Institut Alam dan Tamadun Universiti Kebangsaan Malaysia, berkenan hadir memberikan kuliah bertajuk “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” dalam Interdisciplinary Sharing yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UMS di Auditorium Pasca Sarjana UMS, 16/11/2009. Prof. Wan mengawali ceramahnya dengan menerangkan secara singkat urgensitas ilmu. Kemudian beliau mengelaborasi kapan sebenarnya islamisasi ilmu pengetahuan itu bermula, dan apa obyek yang pertama kali mengalami proses islamisasi disertai dengan contoh kongkritnya yang terjadi pada masa tersebut. Selanjutnya beliau menegaskan bahwa Islamisasi bukanlah upaya Arabisasi. Dan terakhir, beliau menandaskan tujuan hakiki dari islamisasi ilmu pengetahuan dan dari level mana wacana islamisasi itu digulirkan. Setelah itu, dibuka forum tanya-jawab antara Prof. Wan dengan para hadirin.

Pengantar: Kemunculan Wacana Islamisasi Ilmu

Sebelum saya hadirkan penjelasan Prof. Wan terkait rangkaian materi di atas, tidak ada salahnya jika saya deskripsikan terlebih dahulu apa itu islamisasi ilmu pengetahuan dan bagaimana wacana tersebut bisa muncul dalam dua dekade terakhir. Wacana islamisasi ilmu pengetahuan hadir sebagai tanggapan atas hegemoni dan pengaruh Barat dalam kehidupan sains yang tidak dapat dipungkiri membawa dampak negatif bagi peradaban lain, khususnya dalam bidang epistemologi. Adnin Armas menyebut pengaruh Barat ini sebagai “Westernisasi ilmu pengetahuan”.[1]

Adnin Armas mencatat bahwa pada rentang masa Westernisasi ilmu, para sejarawan Barat menganugerahkan gelar “Bapak Filsafat Modern” kepada Rene Descartes yang memformulasi sebuah prinsip, “aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum)”. Dengan prinsip ini, Descartes telah menjadikan rasio satu-satunya kriteria untuk mengukur kebenaran. Pada masa modern, filsafat Immanuel Kant yang menihilisasi metafisika (termasuk di dalamnya persoalan-persoalan teologis) karena tidak bersandarkan pada panca indera sangat berpengaruh. Dalam pandangan Kant, di dalam metafisika tidak terdapat pernyataan-pernyataan sintetik-apriori seperti yang ada di dalam matematika, fisika, dan ilmu-ilmu yang berdasar kepada fakta empiris. Epistemologi Barat yang rasionalis dan sekular ini semakin bergulir dengan munculnya filsafat dialektika Hegel yang terpengaruh dengan Kant.[2]

Pada akhirnya geliat epistemologi Barat yang rasionalis dan sekular ini melahirkan faham ateisme. Akibatnya, faham ateisme ini menjadi fenomena yang umum dalam berbagai disiplin keilmuan, seperti filsafat, teologi Yahudi-Kristen, sains, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, dan lain-lain. Dalam filsafat, misalnya, Ludwig Feurbach, murid Hegel dan seorang teolog, memelopori faham ateisme di abad modern dalam bidang filsafat. Dia menegaskan bahwa prinsip filsafat yang paling tinggi adalah “manusia”; sekalipun agama atau teologi menyangkal, namun pada hakikatnya, agamalah yang menyembah manusia. Agama Kristen sendiri yang menyatakan Tuhan adalah manusia dan manusia adalah Tuhan.[3]

Dalam sains, sudah jamak beredar teori Charles Robert Darwin yang menyimpulkan bahwa Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Bagi Darwin, asal-mula spesies bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan”. Menurutnya lagi, Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua spesies yang berbeda sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesies menjadi berbeda antara satu dan yang lain disebabkan kondisi-kondisi alam.[4]

Dalam disiplin ilmu sosiologi, Auguste Comte, penemu istilah “sosiologi”, memandang kepercayaan kepada agama merupakan bentuk keterbelakangan masyarakat. Dan dalam disiplin psikologi, Sigmund Freud, seorang psikolog terkemuka menegaskan bahwa doktrin-doktrin agama adalah ilusi. Agama sangat tidak sesuai realitas dunia. Bukan agama, tetapi hanya karya ilmiah satu-satunya jalan untuk membimbing ke arah ilmu pengetahuan.[5]

Ringkasnya, Westernisasi ilmu yang bersumber dan berlandas kepada akal dan panca indera telah melahirkan berbagai faham dan pemikiran seperti empirisme, rasionalisme, humanisme, eksistensialisme, materialisme, marxisme, kapitalisme, liberalisme, sosialisme, skeptisisme, relatifisme, agnostisme, dan ujung-ujungnya ateisme. Segala macam “isme” ini begitu berpengaruh dalam dunia ilmu dan melahirkan problema akut pada pandangan dan pemikiran anak didik. Westernisasi ilmu telah melenyapkan wahyu sebagai sumber ilmu. Westernisasi ilmu juga telah menceraikan hubungan keduanya.[6]

Itulah kenapa wacana islamisasi ilmu digulirkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir muslim kontemporer. Dia menyadari bahwa Ilmu Pengetahuan Barat modern-sekular membawa “virus” bagi umat Islam, sehingga harus “disterilisasi” dengan mekanisme islamisasi. Sekalipun peradaban Barat modern menghasilkan juga ilmu yang bermanfaat, namun peradaban tersebut juga telah menyebabkan kerusakan dalam kehidupan manusia.

Tidak semua yang berasal dari Barat adalah rusak dan tertolak, sebagaimana tidak semua yang berasal dari Barat adalah mutlak diterima. Oleh karenanya, diperlukan adanya proses identifikasi antara teori Barat yang diterima dan ditolak. Selanjutnya teori-teori yang tertolak difilterisasi dan dimarginalisasi (atau dengan kata lain, dibuang), sedangkan teori-teori yang bisa diterima harus dijustifikasi. Akan tetapi, untuk melaksanakan semua proses tersebut diperlukan sebuah standar penilaian yang islami. Sebab itulah mekanisme islamisasi ilmu harus diawali dengan upaya ta’shil, yakni menetapkan standar nilai yang diambil dari al-Quran dan Hadits. Standar nilai itulah nantinya yang akan dijadikan mi‘yar untuk melakukan tahap selanjutnya yaitu dewesternisasi; membuang teori-teori Barat yang tidak bisa diterima dalam peradaban Islam. Setelah proses dewesternisasi sempurna, barulah proses puncak islamisasi berupa justifikasi atau pengukuhan teori yang diterima bisa dilakukan.

Paparan Prof. Wan tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Prof. Wan mengawali ceramahnya dengan menerangkan secara singkat urgensitas ilmu. Prof. Wan menyatakan bahwa perkara pertama yang Allah berikan kepada Adam as seusai penciptaannya adalah ilmu. Dan titah pertama yang Allah berikan pada Muhammad saw ketika dia dinobatkan sebagai Rasul adalah ilmu. Allah mengajari Adam nama-nama benda seluruhnya, dan ini adalah perkara ilmu (lihat QS. al-Baqarah: 30-33). Tatkala mengutus Jibril untuk membawa wahyu pertama kepada Muhammad, Allah pun mengawalinya dengan perkara ilmu, yakni perintah agar Muhammad membaca (lihat QS. al-‘Alaq: 1-5).

Sebuah peradaban dibangun oleh pandangan hidup suatu masyarakat, yang tercermin dalam cara pandang mereka terhadap segala sesuatu. Cara pandang ini berakar pada ilmu pengetahuan, khususnya tentang manusia dan alam semesta. Jadi, ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, membangun dan mencerahkan peradaban Islam sejatinya adalah membangun ilmu pengetahuan Islam; dan pada saat yang sama membersihkannya dari elemen-elemen asing yang bertentangan dengan bangunan tersebut.

Selanjutnya Prof. Wan menerangkan asal mula islamisasi ilmu pengetahuan dan contoh kongkrit aplikasinya pada masa kemunculannya itu. Prof. Wan menyatakan bahwa islamisasi ilmu pengetahuan sejatinya telah bermula ketika Muhammad saw dinobatkan sebagai Rasul untuk membawa risalah Islam kepada seluruh umat manusia. Hal itu diawali dan dapat dilihat dari proses islamisasi bahasa Arab. Sejumlah terminologi penting yang membangun pandangan dunia (worldview) bangsa Arab pada waktu itu –seperti Allah, malaikat, dan sebagainya- tidak dibuang oleh Islam, tetapi mengalami perubahan konseptual yang disebut dengan proses islamisasi bahasa.

Allah, misalnya, bukanlah istilah baru yang dibawa oleh al-Quran, tetapi sudah berakar dan ada sekian lama pada bangsa Arab sejak masa jahiliah. Namun demikian, yang membedakan adalah konseptualnya. Konsepsi masyarakat Arab jahiliah terhadap Allah diletakkan pada hierarki ketuhanan. Allah dinyatakan sebagai Tuhan tertinggi dari sekian banyak tuhan-tuhan di bawahNya. Sedangkan tuhan-tuhan yang di bawahNya itu diletakkan pada fungsi sebagai perantara sampainya permohonan kepada Tuhan tertinggi. Konsepsi ini dapat dilihat dengan jelas dari informasi al-Quran surah al-Zumar ayat 3, ketika kaum musyrikin berkata: “Kami menyembah mereka (tuhan-tuhan itu) tidak lain agar mereka membuat kami lebih dekat kepada Allah.” Ayat tersebut menunjukkan secara jelas eksistensi Tuhan yang disebut Allah bagi masyarakat Arab jahiliah dan posisi tertingginya di antara tuhan-tuhan.[7]

Sistem nilai kuno ini kemudian terpukul dengan pernyataan Nabi Muhammad bahwa Tuhan tertinggi ini (Allah) bukanlah tertinggi secara relatif dalam hierarki ketuhanan, tetapi tertinggi secara mutlak dan Esa; yang berarti bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Dengan demikian, semua tuhan-tuhan lain yang dihormati oleh kaum musyrik itu jatuh ke dalam posisi bathil (palsu), lawan dari haqq (nyata). Atau dengan kata lain, hanya nama-nama tanpa kenyataan, hasil dari fantasi dan imajinasi mereka belaka. Konsepsi lama ini pun dipukul oleh surah Yusuf ayat 40: “Apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.[8]

Demikianlah, al-Quran menghadirkan konsepsi baru tentang Allah dan memberangus konsepsi lamanya. Jika orang-orang Arab menerima konsepsi baru ini, situasi umum akan mengalami perubahan total dan akibat-akibatnya tidak hanya mereka rasakan secara relatif dalam batas-batas wilayah gagasan religius, tetapi secara praktis dalam semua bidang kehidupan, sosial maupun individual. Tidak mengherankan bila bentuk perlawanan terhadap Rasulullah begitu kerasnya.[9]

Istilah lain dalam bahasa Arab yang mengalami proses islamisasi, sebagai misal, adalah malaikat (malak) dan manusia (insan). Malaikat yang dalam konsepsi Arab jahiliah adalah wujud supranatural gaib yang memiliki sedikit sifat Tuhan atau jin yang memiliki derajat lebih tinggi, dianggap layak untuk dipuja dan kadang-kadang disembah. Namun demikian malaikat tidak memiliki tempat yang pasti dalam dimensi supranatural. Kadang-kadang dipuja sebagai mediator atau perantara antara Tuhan tertinggi dan manusia, tetapi sering juga dia sendiri menjadi obyek pemujaan dan penyembahan yang sangat luas konsekuensinya bagi pandangan dunia orang-orang Arab.[10]

Dalam konsepsi baru yang dibawa oleh al-Quran, malaikat diberikan tempat yang jelas dan tegas. Dia bukan perantara penyembahan atau obyek penyembahan. Dia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan untuk menyembah dan melaksanakan perintah-perintahNya (lihat QS. al-Nisa’: 172).[11]

Sedangkan manusia (insan) yang dalam konsepsi lama diletakkan sebagai makhluk yang harus menyembah Tuhan tertinggi dengan perantara tuhan-tuhan di bawahNya, diubah oleh konsepsi baru yang dibawa al-Quran, bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diberi tanggung jawab untuk memakmurkan bumi serta beribadah dan menyembah hanya kepadaNya, bukan selainNya (lihat QS. al-Nur: 55, dan al-Dzariyat: 56).

Perubahan konsepsi bahasa Arab ini kemudian melahirkan sebuah pandangan dunia baru, yakni pandangan dunia islami. Inilah hasil dari proses islamisasi, yaitu terbentuknya sebuah pandangan dunia baru yang islami.

Setelah menjelaskan asal bermulanya islamisasi ilmu pengetahuan, Prof. Wan menyatakan bahwa tujuan digulirkannya wacana islamisasi tersebut pada dua dekade terakhir bukan untuk berbangga atau sekadar menemukan teori baru bagi sebuah tesis atau disertasi atau untuk memperoleh penghargaan sebagai profesor, tetapi dalam rangka memperbaiki kehidupan dan membentuk manusia yang kaffah dalam melaksanakan amanah beribadah dan menghadirkan kemakmuran bagi dunia.

Selain itu, Prof. Wan juga menegaskan bahwa wacana islamisasi bukanlah proyek Arabisasi. Ini dalam rangka membantah orang-orang yang salah memahami hakikat islamisasi. Orang-orang yang salah paham mengira bahwa wacana islamisasi digulirkan untuk mengarabkan pola hidup semua bangsa. Bukan demikian. Islamisasi ilmu dilaksanakan dengan bersandar pada nilai-nilai universal Islam yang tersarikan dari al-Quran dan Hadits, bukan berdasar pada gaya hidup orang Arab. Islamisasi ilmu tidak berkenaan dengan atribut dan tampilan performa luar, semacam gaya berpakaian dan sebagainya, tetapi berkaitan dengan aspek ideologis, teologis, dan pandangan hidup. Jadi, islamisasi ilmu digulirkan bukan untuk “menggamiskan” dan “menyorbankan” manusia, tapi untuk melahirkan manusia-manusia yang berpemikiran dan berpandangan hidup islami.

Selanjutnya, Prof. Wan menyinggung tentang bagaimana dan dari level mana islamisasi digulirkan. Prof. Wan menyatakan bahwa islamisasi digulirkan dari level dewasa, bukan anak-anak. Sehingga proyek islamisasi saat ini lebih dikonsentrasikan bagi mereka yang telah menempuh jenjang pendidikan perkuliahan bukan persekolahan. Kebijakan ini diambil karena masih minimnya sumber daya manusia yang dapat digerakkan untuk proses islamisasi. Dengan mengawali proses islamisasi dari tingkat perguruan tinggi, diharapkan para alumni yang dihasilkan nantinya bisa meneruskan proses ini kepada tingkat yang lebih bawah. Para alumni perguruan tinggi yang jadi guru akan mengajarkan ilmu yang telah diislamisasi olehnya kepada peserta didik, dan para penyusun buku pelajaran dapat menyusun buku pegangan baru berdasarkan islamisasi ilmu.

Namun demikian, terasa ada “PR” yang mengganjal, karena seperti yang disampaikan oleh Prof. Wan, sampai saat ini proses islamisasi masih dilaksanakan secara “alamiah”, belum ada grand design yang menetapkan polanya. Tentu untuk membangun sebuah desain islamisasi ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan pegangan untuk semua, diperlukan adanya kolaborasi antara para ahli dan praktisi dari lintas disiplin ilmu. Ahli dan praktisi pemikiran dan peradaban Islam maupun ahli dan praktisi hukum Islam tidak dapat berjalan sendiri. Mereka harus berkonsultasi dan bekerja bersama dengan para ahli dan praktisi dari ilmu-ilmu yang akan diislamisasi. Jika ilmu sains –baik fisika, biologi, dsb- akan diislamisasi, maka perlu menghadirkan pula pakar dan praktisi sains. Jika ilmu-ilmu sosial dan humaniora –semisal psikologi, sosiologi, antropologi, sejarah, dsb- akan diislamisasi, maka perlu menghadirkan ahli dan praktisinya. Demikianlah, sebuah “PR” berupa kolaborasi antara para pakar dari berbagai disiplin ilmu perlu dipikirkan dan diselesaikan.


[1] Lihat Adnin Armas, “Westernisasi dan Islamisasi Ilmu”, dalam jurnal ISLAMIA (Jakarta, no. 6, Juli-September 2005), h. 9.

[2] Lihat derskripsi lengkapnya dalam Adnin Armas, Ibid., h. 10.

[3] Ibid., h. 10.

[4] Ibid., h. 10.

[5] Ibid., h. 10-11.

[6] Ibid., h. 12.

[7] Lihat Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia, terj. Agus Fahri Husein, dkk (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1997), h. 4-6.

[8] Ibid., h. 6-7.

[9] Ibid., h. 6.

[10] Ibid., h. 8.

[11] Ibid., h. 9.

Iklan

Responses

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb
    Sebagai umat terbesar didunia seharusnya kita umat Islam punya bargaining politik untuk merubah dunia dari peradaban liberalis kapitalis kembali menjadi peradaban Islam, dengan menjadikan Islam sebagai sebuah ideologi. kita perlu merubah pemikiran, perasaan dan sistem yang ada sekarang, kembali pada Islam. tegakkan syariah dalam sebuah bingkai negara Khilafah Islamiyah ‘ala minhaji nubuwwah.
    Wassalam wr.wb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: